Sun. Dec 15th, 2019

Pada 27 SM s.d. 476 M, selama masa kerajaan Romawi, lelang telah populer dilakukan oleh masyarakat Roma. Untuk kepentingan militer, setelah perang usai prajurit-prajurit Romawi sering berkeliling ke negara yang kalah perang untuk mencari dan mengumpulkan harta yang tersisa untuk disita sebagai rampasan perang, serta mencari-cari penduduk untuk dijadikan budak. Harta rampasan perang dan budak tersebut kemudian dijual secara lelang dan hasil penjualan tersebut digunakan untuk membiayai perang berikutnya.

Kata lelang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, auction yang berasal dari bahasa latin augere/auctus yang artinya meningkat (augment/to increase). Tak ada seorang pun yang secara pasti mengetahui kapan pertama kali lelang dilaksanakan. Namun dapat dipastikan bahwa penjualan secara lelang telah dilakukan ratusan tahun sebelum masehi.

Pada tahun 193 M terselenggara salah satu lelang yang paling terkenal. Kerajaan Romawi dilelang oleh Praetorian Guard (Tentara Praetorian). Praetorian Guard adalah tentara elit yang bertugas melindungi kaisar Romawi. Pada tanggal 23 Maret, Tentara Praetorian lebih dulu membunuh Kaisar Pertinax, kemudian menawarkan kerajaan kepada penawar tertinggi. Didius Julianus kemudian mengajukan penawaran tertinggi dengan harga 6,250 drachmas per satu orang tentara (Guard) dan kemudian memicu perang saudara. Dua bulan kemudian Didius tewas setelah Septimus Severus menguasai Roma. Lelang juga dilakukan untuk menjual aset milik debitor yang disita sebagai jaminan hutang. Marcus Aurelius pernah melelang barang-barang rumah tangga untuk menebus hutang-hutangnya.

Herodotus menulis bahwa sekitar 500 tahun Sebelum Masehi (SM), bangsa Yunani setiap tahun telah sering melakukan wedding auction, yaitu lelang anak perempuan dewasa untuk dijadikan sebagai istri. Pada masa itu, seorang anak perempuan tidak boleh dijual selain dengan cara lelang. Sistem penawaran lelang dilakukan secara descending, yaitu dimulai dari harga tertinggi dan dilanjutkan dengan penawaran harga yang semakin menurun sampai salah seorang penawar ditetapkan sebagai pembeli, dengan catatan harga penawaran tersebut paling sedikit sama dengan harga minimum (limit) yang ditetapkan oleh penjual. Pada wedding auction ini, perempuan yang berwajah menarik akan memperoleh banyak penawaran dengan harga tinggi. Sementara perempuan yang kurang menarik seringkali harus menambahkan mas kawin atau menawarkan barang berharga kepada peserta agar bersedia mengajukan penawaran sesuai dengan nilai limit sehingga dapat terjual lelang.

Pada awal abad VII, apabila seorang pemimpin agama meninggal dunia maka harta bendanya dijual secara lelang. Pada abad ke-13, Raja Henry VII telah memiliki Juru Lelang berlisensi. French auction pada saat itu juga telah terorganisasi dengan baik. Pada tahun 1556, pemerintah Prancis memiliki Juru Sita merangkap sebagai Juru Lelang yang bertugas melelang harta rampasan perang.

Pada zaman Romawi muncul istilah-istilah khusus bagi orang-orang yang berhubungan dengan lelang, antara lain: Magister Auctionarium, adalah Juru Lelang berlisensi yang berwenang melaksanakan lelang; Dominus, adalah penjual atau pemilik barang yang akan dijual; Argentaurius, adalah orang yang melakukan pengaturan pelaksanaan lelang dan dapat memberikan jasa keuangan; Praeco, adalah orang yang mengumumkan dan mempromosikan lelang dan dapat berperan sebagai pengarah penawaran/afslager.

Lelang di Inggris tercatat dilakukan pertama kali pada tahun 1674, saat lelang lukisan yang dilaksanakan di Summerset House. Sedangkan lelang aset properti yang pertama kali tercatat di Inggris adalah lelang yang diumumkan di surat kabar London Evening Post pada tanggal 8 Maret 1739. Saat itu dikenal istilah English auctions, yang dikenal dengan sebutan lelang terbuka secara lisan. Juru Lelang membuka lelang dengan menawarkan harga sebesar nilai limit kemudian dilanjutkan dengan penawaran yang lebih tinggi dari peserta. English auctions pada saat itu dilakukan di kedai-kedai kopi dan tempat penginapan. Lelang dilaksanakan setiap hari dan katalog lelang dicetak untuk menginformasikan barang-barang yang tersedia untuk dilelang secara detail dan spesifik. Katalog lelang dicetak dan didistribusikan sebelum dilaksanakan lelang barang antik atau lelang barang lainnya. Juru Lelangnya dipilih dari orang yang memiliki kharisma, bersemangat, dan pandai dalam menghibur peserta lelang.

Sekitar abad XVII dan abad XVIII, penyelenggaraan lelang lebih terorganisasi, dilakukan secara teratur, dihadiri lebih banyak peserta lelang dan dilaksanakan di tempat-tempat yang lebih representatif. Pada saat itu mulai dikenal sistem auction candle di Inggris untuk melelang barang-barang rumah tangga. Auction candle dilakukan secara ascending, yaitu dengan penawaran yang semakin meningkat sampai diperoleh satu orang penawar tertinggi. Lelang dimulai saat lilin dinyalakan, kemudian penawar terakhir dan tertinggi ditetapkan sebagai pemenang lelang pada saat lilin habis dan padam. Metode ini digunakan agar peserta lelang tidak mengetahui secara pasti saat lelang berakhir dan menghindari penawaran pada saat-saat terakhir lelang (last-second bid). Kadang-kadang sebagai pengganti lilin, digunakan balap lari untuk menentukan waktu penawaran lelang.

Di Swedia, pada tahun 1674 berdiri Stockholm Auction House (Stockholms Auktionsverk) yang merupakan Balai lelang tertua di dunia. Saat ini balai lelang terbesar di dunia adalah Balai Lelang Christie di London yang didirikan sekitar tahun 1766, diikuti dengan Balai Lelang Sotheby di New York, AS yang berdiri tahun 1744.

Pada tahun 1600-an, peziarah dari bangsa Inggris mendarat di Pantai Timur Amerika dan memperkenalkan lelang. Kemudian lelang berkembang populer selama masa kolonialisasi dunia dengan menjual pakaian binatang, hasil pertanian, kayu lapis, ternak, peralatan dan budak. Pada tahun 1617, pedagang Belanda pernah melakukan lelang budak di Jamestown, dan pada tahun 1769 ditemukan selebaran pelelangan budak di Charleston, South Carolina.

Pada tahun 1860-an, saat perang saudara (Civil War), Amerika telah melakukan lelang atas barang-barang rampasan perang dan sisa-sisa perang. Hanya pejabat yang berpangkat Kolonel yang boleh melaksanakan lelang sehingga dikenal dengan istilah Colonel Auction, Untuk mengenang masa-masa dulu, kadang-kadang juru lelang Amerika menggunakan pakaian militer berpangkat Kolonel dalam memimpin lelang. Lelang barang antik telah dilaksanakan di Amerika sekitar tahun 1876 saat merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-100. Pada waktu itu, lelang terhadap barang-barang furniture sangat diminati.

Pada awal abad XX, industri lelang di Amerika semakin meningkatkan profesionalisme juru lelang dengan mulai membangun kepercayaan dan kehormatan. Maka mulai dibentuklah organisasi dan asosiasi juru lelang. Pada tahun 1901 dibentuk New York State Auctioneers Association, kemudian pada tahun 1904 juga dibentuk St. Louis of the International Auctioneers Association.

Seiring dengan semakin membaiknya kualitas hidup masyarakat Amerika, lelang juga semakin baik kualitasnya. Pada tahun 1883, Amerika memiliki balai lelang seni milik Asosiasi Seni Amerika di New York. Asosiasi seni ini berperan dalam membentuk integritas juru lelang, penciptaan penampilan barang-barang antik yang dilelang agar lebih menarik, dan pakaian khas juru lelang menggunakan pakaian formal malam dengan dasi kupu-kupu. Hal ini kemudian diadopsi oleh Balai Lelang Sotheby dalam penyelenggaraan lelangnya.

Sekitar tahun 1900-an Lelang real estate menjadi sangat populer. Pada tahun 1904, diperkirakan separuh jual beli real estate yang terjadi di New York adalah melalui lelang. Pada tahun 1909, di kota New York pernah diselenggarakan lelang real estate pada satu tempat yang dihadiri oleh kurang lebih 1.500 peserta lelang. Pada tahun 1920-an, perusahaan-perusahaan Amerika mulai menggunakan image lelang dalam penayangan iklan produknya. Post Bran Flakes, perusahaan otomotif Ford, iklan Beer dan perusahaan asuransi semuanya menampilkan gambaran lelang dalam iklan produknya. Lelang kuda juga populer dan dilaksanakan secara rutin setiap minggu di New York.

Pada awal tahun 1990-an, juru lelang mulai memanfaatkan teknologi dalam pelaksanaan lelangnya. Komputer, mesin fotokopi, telepon, dan teknologi lain menjadikan bisnis lelang semakin mudah dan cepat berkembang. Beberapa juru lelang mulai menggunakan layar lebar untuk menampilkan foto item barang lelang yang berukuran kecil, seperti perhiasan dan batu permata. Telepon seluler menjadi populer sehingga memudahkan juru lelang menghubungi calon pembeli lelang walaupun sedang dalam perjalanan.

Pada tahun 1995, Masatakan Fujisaki dari Jepang menciptakan sistem lelang internet yang disebut AUCNET, Ia menggeser sistem lelang mobil bekas, dari sistem lelang langsung, yang menggunakan tempat lelang sebagai pasar fisik tempat bertemunya pembeli dan penjual (marketplace), ke sistem lelang melalui pasar maya (virtual market atau market space). Para dealer yang berniat menjual mobil bekas menelepon ke AUCNET dan kemudian pemeriksa dari AUCNET mendatangi, memeriksa, dan mengumpulkan informasi rinci tentang mobil yang ditawarkan. Informasi beserta foto-foto tentang mobil kemudian dikirimkan kepada para dealer mobil bekas yang berlangganan sistem informasi yang dikeluarkan oleh AUCNET. Pada akhir setiap minggu, staf di AUCNET memimpin lelang mobil bekas melalui layar monitor komputer, yang diikuti oleh para dealer mobil bekas di seluruh Jepang dari kantor mereka masing-masing. Lelang internet ini kemudian diikuti oleh situs lelang Onsale, yang di-launch pada bulan Mei 1995 dan situs lelang yang paling populer sekarang, yaitu eBay yang di-launch pada bulan September 1995.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *